Postingan

Mengenal filsafat Stoa

Gambar
Mengenal filsafat stoa Mungkin sebagian dari kita sudah mengamalkan atau menjalani ilmu dari filsafat ini, hanya saja kita tidak tahu ternyata ini ada ilmunya. Sebenarnya ajaran tentang Stoa itu simpel, kita terus berproses dan tidak memperhitungkan hasil. Kemudian kita pasrah ataupun tawakal menerima keadaan. Stoa ini juga mengajarkan kita untuk bersikap meminimalkan atau bahkan menghilangkan keinginan kemudian diganti dengan kebutuhan. Walaupun punya harta ataupun kaya tetapi sikap hidup tetap sumeleh. Stoa melatih kita untuk menjalani hari dengan biasa-biasa saja. Tetapi bersikap biasa di era sekarang ini merupakan sesuatu yang langka, mahal ataupun istimewa.Punya uang banyak tak usah sombong,harta itu sebenarnya ya cuma titipan, kebetulan saja dimudahkan. Yang kebetulan hidupnya pas-pasan juga tidak usah minder. Pada dasarnya orang miskin yang minder dan orang kaya yang sombong itu sama saja. Orang yang merasa minder ketika miskin, besar kemungkinan akan sombong ketika kaya. S...

kuwalat pada diri

Kita cenderung lebih punya adab ketika menghadapi   orang-orang yang kita anggap orang besar, orang penting dan semacamnya.   Misal kaum agamawan, intelektual, penguasa ,pejabat dan lain-lain. Padahal, adab itu tidak cuma kepada orang-orang pada level tertentu. Sebenarnya adab itu kepada semua orang, tanpa memandang siapakah dia . Kita beralasan, kita bisa kuwalat kalau kita tidak hormat ataupun punya adab kepada beliau-beliau tersebut. Yang bisa nguwalati ataupun malati itu bukan cuma orang-orang kelas tertentu saja, setiap yang pernah kita dholimi itu bisa malati. Justru orang-orang yang tidak kita perhitungkan   itu yang bisa malati. Kaum sub-altern,   gembel dan sebagainya yang kita cenderung meremehkannya. Bisa jadi kekasih-kekasih Nya itu   ada di mereka   yang   tidak pernah kita anggap. Kuwalat bisa diartikan semacam karma buruk yang dapat kita terima karena telah melakukan perbuatan yang kurang baik, meremehkan , mendholimi dan sebagainya ...

keinginan, sumber penderitaan

Gambar
Adanya penderitaan itu disebabkan oleh banyaknya keinginan. Bisa juga dikatakan bahwa sumber ketidakbahagiaan adalah banyaknya keinginan. Sebenarnya keinginan sendiri adalah suatu efek. Munculnya keinginan itu dikarenakan adanya perbandingan. Semakin banyak membandingkan maka efeknya adalah banyak keinginan. Ini terjadi dalam banyak hal, misal   dari postur tubuh, wajah dan kemudian juga hal-hal yang bersifat materi, jumlah kekayaan, miskin atau kaya dan juga menyangkut gaya hidup. Jadi, cara supaya kita tidak mempunyai banyak keinginan adalah meminimalkan perbandingan. Tetapi konsekuensinya tidaklah mudah ataupun bisa dikatakan berat. Kita harus siap menjadi makhluk asing layaknya alien, ketinggalan jaman ataupun tidak up to date. Berlebaran dengan memakai baju ataupun pakaian yang tidak baru itu sah-sah saja, tetapi kita sudah paranoid , apa kata mereka nantinya. Sebenarnya kita saja yang ribet menghadapinya. Ada satu kalimat dalam bahasa Jawa yang agak menggelitik yaitu, ...

Belajar kepada Iblis, Adam dan Hawa

Belajar kepada Iblis, Adam dan Hawa Setiap cerita nabi ada sisi psikologis , ada nilai dan ilmu yang bisa kita gali yang tak selalu tentang dosa , neraka dll. Seringkali kita menganggap cerita di kitab suci itu cuma dongeng saja. Kali ini kita akan membahas ataupun belajar tentang kasus Adam dan Hawa, tidak perlu diceritakan lagi bagaimana kisah   tersebut. Kita akan belajar dengan pendekatan sisi kemanusiaan Adam. Dari kisah Adam dan Hawa ada beberapa yang bisa kita ambil, yang pertama adalah tentang   identitas dan eksistensi .Identitas ini adalah tentang “siapa”, misalnya siapa aku, siapa kamu ataupun siapa kami, siapa kalian. Yang berkaitan erat dengan identitas adalah eksisitensi. Eksistensi , kalau pada iblis   itu simple yaitu kesombongan. Dahulu Iblis merasa dirinya lebih baik daripada Adam, itu terjadi juga kepada   manusia sekarang. Sekarang iblis-iblis itu muncul dalam banyak hal.Supporter sepakbola, pendukung parpol, ormas   dan lain-lain, me...

berfilsafat

Ketika kita mendengar kata “filsafat”, biasanya pikiran kita   langsung tertuju ke zaman Yunani kuno kemudian ada Sokrates, Plato & Aristoteles. Memang benar mereka adalah tokoh filsafat, tetapi berfilsafat itu hak setiap manusia yang memiliki akal. Filsafat itu artinya sederhana, yaitu berpikir secara terstruktur. Ketika kita berpikir secara terstruktur, maka kita sudah berfilsafat, tak peduli kita ini lulusan pendidikan apa. Biasanya kita terjebak oleh istilah, bahwa filsafat itu harus rumit dan sebagainya, justru kalau tidak sistematis , tidak terstruktur itu bukan filsafat. Filsafat itu tidak harus rumit, yang terpenting adalah terselesaikannya masalah. Seseorang tidak harus belajar teori filsafat yang rumit, dia bisa berfilsafat dengan cara membiasakan diri berpikir secara terstruktur.   Di setiap zaman dan peradaban pasti ada filsafat, jadi filsafat itu tak melulu   didominasi Barat. Filsafat Jawa pun ada, dan dari bermacam lapisan masyarakat kebanyakan ...