Mengenal filsafat Stoa
Mengenal filsafat stoa
Mungkin sebagian dari kita sudah mengamalkan atau menjalani ilmu dari filsafat ini, hanya saja kita tidak tahu ternyata ini ada ilmunya. Sebenarnya ajaran tentang Stoa itu simpel, kita terus berproses dan tidak memperhitungkan hasil. Kemudian kita pasrah ataupun tawakal menerima keadaan. Stoa ini juga mengajarkan kita untuk bersikap meminimalkan atau bahkan menghilangkan keinginan kemudian diganti dengan kebutuhan. Walaupun punya harta ataupun kaya tetapi sikap hidup tetap sumeleh.
Stoa melatih kita untuk menjalani hari dengan biasa-biasa saja. Tetapi bersikap biasa di era sekarang ini merupakan sesuatu yang langka, mahal ataupun istimewa.Punya uang banyak tak usah sombong,harta itu sebenarnya ya cuma titipan, kebetulan saja dimudahkan. Yang kebetulan hidupnya pas-pasan juga tidak usah minder. Pada dasarnya orang miskin yang minder dan orang kaya yang sombong itu sama saja. Orang yang merasa minder ketika miskin, besar kemungkinan akan sombong ketika kaya. Stoa membimbing kita untuk tidak mudah panik dan juga jangan baper. Ilmu Islam dan Stoa ini mungkin banyak titik temunya , dan puncaknya adalah keikhlasan dan kesabaran serta rasa syukur. Stoa mengajak kita untuk belajar menjadi orang yang ikhlas dan sabar.
Seringkali orang berbuat itu karena pamrih, harus ditonton dahulu baru tampil “selayaknya”. Betapa banyak dalam hidup itu kita berbuat berdasarkan cara pandang orang lain. Ada sebuah kisah dari Timur Tengah tentang seorang bapak, anak dan keledainya. Dalam sebuah perjalanan , bapak dan anak ini hanya menuntun keledai tersebut. Orang-orang yang menyaksikannya kemudian mencibir, orang punya keledai kok cuma dituntun saja, bukankah bisa ditunggangi supaya tidak lelah? Bapak dan anak ini kemudian menunggangi keledai tersebut dan melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, bapak dan anak ini kemudian bertemu lagi dengan sekelompok orang dan merekapun mencibir. Dasar orang yang tidak punya rasa kasihan, keledai sekecil itu dinaiki oleh dua orang. Kalau mau naik, cukup satu orang saja. Sang bapakpun akhirnya turun dan melanjutkan perjalanan. Merekapun bertemu dengan sekumpulan orang lagi dan berkomentar. Benar-benar anak yang kurang ajar, dia enak-enakan naik keledai sementara bapaknya disuruh menuntun! Sang bapak dan anakpun bertukar posisi, berarti sang bapaklah yang menunggang keledai. Dalam perjalananpun mereka bertemu dengan orang-orang yang menyalahkan mereka. Hei, lihatlah itu bapak yang tak tahu malu, dia yang menunggang keledai sementara anaknya disuruh menuntun! Akhirnya bapak dan anak ini memutuskan untuk memanggul keledai tersebut. Kisah ini sebagai gambaran bahwa dalam hidup jangan selalu menuruti perkataan orang, kita harus punya sikap.
Stoa memutus mata rantai tersebut.
Sebenarnya ilmu barat itu juga banyak yang bisa kita pakai tetapi kita seringkali menjelek-jelekkannya mungkin karena tidak bisa menerapkannya. Kita sering memuja ilmu leluhur nusantara , walaupun itu juga tidak bisa menjalankannya dengan maksimal. Stoa mengajarkan walaupun dalam keadaan terdesak sekalipun ,manusia tetap harus dalam keadaan control. Dalam stoa tidak ada kepanikan dan kecemasan.Dalam stoa diajarkan untuk memilah, merenungi tentang kecemasan, siapa yg membuat kecemasan.
Stoa tidak memberi ruang untuk berputus asa. Jangan memberi kesempatan untuk mengutuk nasib, menyalahkan keadaan karena itu factor luar. Stoa mencari factor dari dalam(kita), tinggalkan factor luar ( bukan kita) . Minder dan berputus asa itu factor luar karena perbandingan2. Stoa itu lakoni wae ataupun jangan lakoni, intinya dari dalam. Tidak terlalu mengurus factor luar.

Komentar
Posting Komentar