Belajar, bukan sekolah!
Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Ini berarti bahwa kewajiban kita belajar adalah sepanjang hayat. Kita bisa belajar dari semua yang ada dalam hidup ini. Belajar dari hal-hal yang sudah kita lewati, yang kita alami. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Kita bisa memberikan tanda, membaca pola dan sebagainya, sehingga kita tidak akan terjerumus , tertipu atau mengalami kejadian yang kurang menguntungkan. Selain kita belajar kepada "guru" sebagai perantara.
Ayat yang pertama-tama turun adalah "iqra" yang berarti bacalah. Membaca , ini tidak hanya terhadap yang sudah tertulis secara teks. Sebenarnya kita bisa belajar membaca yang tidak tertulis. Segala yang terhampar , tersebar di dunia ini adalah juga ayat-ayat.
Dalam kenyataannya , belajar ini diartikan ataupun disamakan dengan sekolah, padahal belajar dan sekolah ini tidaklah sama. Mungkin dalam sekolah kita bisa mengambil beberapa hal yang bisa dijadikan bahan belajar, menjadi hal yang bermanfaat. Ada baiknya kita sedikit cari tahu tentang apa dan bagaimana sekolah itu bermula.
Kita akan sedikit membaca ataupun melihat apa itu sekolah dari sisi yang lain. Sejak tingkat dasar anak-anak ditanya soal cita-cita. Besok kalau sudah besar mau jadi apa? Maksudnya besok kalau sudah dewasa , ketika sudah tidak sekolah. Menjadi "apa", ini biasanya mengarah kepada satu pekerjaan yang biasanya menghasilkan uang. Nah, sudah mulai ada gambaran uang di sini.
Orientasi anak-anak kemudian berlanjut bahwa sekolahlah yang pintar, supaya besuk-besuk bisa kerja yang bagus dan menghasilkan uang yang banyak ataupun banyak sekali. Tidak salah dengan cara berpikir seperti itu, boleh saja.
Dengan sekolah, sejak dini kita sudah diperkenalkan dengan uang. Cara pandang terhadap uangpun kemudian terbentuk. Bahwa uang itu sangat penting, kita harus punya banyak suatu saat nanti. Uang akan menjadi semacam candu. Kita akan tidak ada artinya jika tidak punya uang. Uang ini erat hubungannya dengan kapitalisme. Bagaimana sistem kapitalisme ini bekerja, sangatlah menggoda. Kemudian bisa membuat masyarakat menjadi konsumtif. Bisa, maksudnya berpotensi,tetapi ada juga yang bisa mengelola diri dengan baik.
Kembali kepada "iqra", belajar itu yang terpenting adalah membaca. Apakah sekolah-sekolah yang ada sudah bisa menciptakan budaya hobi membaca? Mungkin sebagian besar belum bisa. Dalam suatu penelitian diketahui bahwa minat baca orang-orang di Indonesia ini termasuk dalam kategori memprihatinkan.
Sedangkan bagian lainnya, yang suka membaca, sifatnya suka menghafal teks . Siapa yang pintar menghafal maka bisa dikatakan ia pintar, sedangkan yang tidak sama maka sebut saja kebalikannya. Kemudian muncul orang-orang yang kaku. Tanpa disadari sekolah ini malah membelenggu otak, bukan mengembangkan kreatifitas. Misal juga dalam menggambar, yang namanya rambut itu harus berwarna hitam. Ketika ada anak yang mewarnai gambar rambut dengan warna yang lain, maka ia akan dipermasalahkan. Imajinasi anak yang macam-macam itu kemudian terbendung. Pokoknya rambut harus hitam.
Ada banyak yang dipelajari di sekolah itu pada akhirnya tidak memberi manfaat apa-apa. Tidak bisa diterapkan dalam kenyataan hidup. Dalam matematika itu kalau tidak salah pernah ada sinus, kosinus, tangen, kotangen dan mungkin ada kotangnya mbokmu juga, *eh. Itu tidak ada dalam kehidupan sehari-hari kita. Yang nyata bisa diterapkan ya yang dasar saja, istilahnya pipa landa, ping para lan suda. Yaitu perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan.
Mungkin itu sebabnya ketika lulus sekolah, bingung mau berbuat apa. Pintar di sekolah tidak menjamin pintar untuk hidup. Dari bersekolah sekian tahun yang didapat belum tentu ilmu, bisa jadi hanyalah ijazah. Ijazah bukanlah sebagai tanda pernah belajar tapi sebagai tanda pernah bersekolah.
Ayat yang pertama-tama turun adalah "iqra" yang berarti bacalah. Membaca , ini tidak hanya terhadap yang sudah tertulis secara teks. Sebenarnya kita bisa belajar membaca yang tidak tertulis. Segala yang terhampar , tersebar di dunia ini adalah juga ayat-ayat.
Dalam kenyataannya , belajar ini diartikan ataupun disamakan dengan sekolah, padahal belajar dan sekolah ini tidaklah sama. Mungkin dalam sekolah kita bisa mengambil beberapa hal yang bisa dijadikan bahan belajar, menjadi hal yang bermanfaat. Ada baiknya kita sedikit cari tahu tentang apa dan bagaimana sekolah itu bermula.
Kita akan sedikit membaca ataupun melihat apa itu sekolah dari sisi yang lain. Sejak tingkat dasar anak-anak ditanya soal cita-cita. Besok kalau sudah besar mau jadi apa? Maksudnya besok kalau sudah dewasa , ketika sudah tidak sekolah. Menjadi "apa", ini biasanya mengarah kepada satu pekerjaan yang biasanya menghasilkan uang. Nah, sudah mulai ada gambaran uang di sini.
Orientasi anak-anak kemudian berlanjut bahwa sekolahlah yang pintar, supaya besuk-besuk bisa kerja yang bagus dan menghasilkan uang yang banyak ataupun banyak sekali. Tidak salah dengan cara berpikir seperti itu, boleh saja.
Dengan sekolah, sejak dini kita sudah diperkenalkan dengan uang. Cara pandang terhadap uangpun kemudian terbentuk. Bahwa uang itu sangat penting, kita harus punya banyak suatu saat nanti. Uang akan menjadi semacam candu. Kita akan tidak ada artinya jika tidak punya uang. Uang ini erat hubungannya dengan kapitalisme. Bagaimana sistem kapitalisme ini bekerja, sangatlah menggoda. Kemudian bisa membuat masyarakat menjadi konsumtif. Bisa, maksudnya berpotensi,tetapi ada juga yang bisa mengelola diri dengan baik.
Kembali kepada "iqra", belajar itu yang terpenting adalah membaca. Apakah sekolah-sekolah yang ada sudah bisa menciptakan budaya hobi membaca? Mungkin sebagian besar belum bisa. Dalam suatu penelitian diketahui bahwa minat baca orang-orang di Indonesia ini termasuk dalam kategori memprihatinkan.
Sedangkan bagian lainnya, yang suka membaca, sifatnya suka menghafal teks . Siapa yang pintar menghafal maka bisa dikatakan ia pintar, sedangkan yang tidak sama maka sebut saja kebalikannya. Kemudian muncul orang-orang yang kaku. Tanpa disadari sekolah ini malah membelenggu otak, bukan mengembangkan kreatifitas. Misal juga dalam menggambar, yang namanya rambut itu harus berwarna hitam. Ketika ada anak yang mewarnai gambar rambut dengan warna yang lain, maka ia akan dipermasalahkan. Imajinasi anak yang macam-macam itu kemudian terbendung. Pokoknya rambut harus hitam.
Ada banyak yang dipelajari di sekolah itu pada akhirnya tidak memberi manfaat apa-apa. Tidak bisa diterapkan dalam kenyataan hidup. Dalam matematika itu kalau tidak salah pernah ada sinus, kosinus, tangen, kotangen dan mungkin ada kotangnya mbokmu juga, *eh. Itu tidak ada dalam kehidupan sehari-hari kita. Yang nyata bisa diterapkan ya yang dasar saja, istilahnya pipa landa, ping para lan suda. Yaitu perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan.
Mungkin itu sebabnya ketika lulus sekolah, bingung mau berbuat apa. Pintar di sekolah tidak menjamin pintar untuk hidup. Dari bersekolah sekian tahun yang didapat belum tentu ilmu, bisa jadi hanyalah ijazah. Ijazah bukanlah sebagai tanda pernah belajar tapi sebagai tanda pernah bersekolah.
Komentar
Posting Komentar