Buih itu adalah kita

Rasulullah berwasiat ;
“Kelak, orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian...”
Seseorang sahabat bertanya,
“Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?”
“Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kalian seperti buih di atas di lautan! Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuh terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.”
“Apakah wahn itu?”
“Cinta dunia dan takut mati,”
(HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).




Coba kita amati buih ataupun umpluk itu bagaimana. Buih itu ada berwujud tetapi dia kopong kosong, adanya di permukaan, banyak bergerombol, gampang tertiup angin, terombang-ambing oleh ombak ataupun gelombang dan sebagainya, tidak jauh-jauh dari situ. Kita bisa mengetahui ciri-ciri 'buih' dari apa yang telah tertulis tersebut. Mereka itu biasanya cuma melihat segala sesuatu dari permukaan, tidak kemudian mencari hal-hal yang ada di kedalaman. Dalam ungkapan lainnya mereka cuma melihat kulit tanpa belajar tentang isi.
 Kecenderungan lainnya yaitu tertarik terhadap hal-hal yang viral dan receh, kurang berminat mengikuti hal-hal yang lebih bermakna, lebih berbobot dan sebagainya. Jadinya segala macam sesuatu yang lagi kondang selalu up to date, isu ataupun rumor yang berkembang tidak pernah ketinggalan. Celakanya isu-isu tersebut memang ada yang sengaja meniupkannya sehingga 'buih' sibuk berdebat kusir tanpa mengajak pak kusir. Ketika mereka sibuk berdebat di sisi lain ada peristiwa penting yang tidak diketahui. Bisa dikatakan juga mereka ini gampang untuk dipecah belah ataupun diadu domba, kemudian ada pihak yang bisa mengambil keuntungan.

Kita lebih sibuk berdebat tentang kebenaran penyebutan nama surat, apakah Al Fatihah, Al Fatehah, Al patekah, atau yang lainnya daripada sinau belajar tentang surat tersebut, itu misalnya. Dalam pilpres misalnya, sebagian dari kita sibuk memuja-muji calon presiden pilihannya dan merasa golongan atau kelompoknyalah yang paling hebat. Kecenderungannya, kelompoknya akan didukung habis-habisan sekalipun sebenarnya salah. Ini berlaku di semua kelompok apapun, tidak hanya terkait politik dan pilpres. Terkait pilpres ini banyak hal-hal yang tidak pantas terjadi gara-gara terlalu fanatik dalam mendukung pilihannya. Sesama saudara sebangsa saling ejek, saling merendahkan, merasa diri dan golongan yang paling hebat. Satu agama yang sama, satu Nabi yang sama saling hina gegara beda memilih penguasa. Sungguh memprihatinkan. Tanpa sadar kita ini seperti dipermainkan dan diombang-ambingkan. Ternyata dari apa yang telah dituliskan, kita cocok dengan pendekatan ciri-ciri buih tersebut. Jangan-jangan mereka itu adalah kita. Ya, buih itu adalah kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miskin dan merasa miskin itu beda

Belajar, bukan sekolah!