Miskin dan merasa miskin itu beda

Miskin itu bisa diartikan kurang lebih sebagai kekurangan pendapatan, kebutuhan tidak tercukupi dan sebagainya. Tetapi ada juga jenis miskin yang lain. Sebenarnya tidak miskin tetapi memiskinkan diri, yaitu menganggap dirinya miskin karena sibuk membanding-bandingkan dengan yang lain.


Maksudnya membandingkan dengan yang lebih mewah sehingga merasa dirinya selalu kurang. Padahal secara mendasar kebutuhannya tercukupi. Misal membandingkan dengan teman ataupun tetangga dalam hal kendaraan. Teman ataupun tetangga memiliki motor yang lebih muda atau terhitung keluaran terbaru sedangkan dirinya masih menggunakan motor yang lawas. Walaupun motor yang lawas itu masih berfungsi dengan baik. Sebenarnya hal ini terjadi karena kurangnya rasa syukur.

Dalam kitab suci dijelaskan bahwa orang yang tidak bisa bersyukur atau kufur nikmat, baginya adalah siksa yang pedih. Siksa di sini bisa diartikan tidak harus di akhirat. Kalau kita ambil contoh di atas misalnya, orang yang punya motor lawas tetapi mengidam-idamkan motor yang lebih baru bisa dikatakan kenikmatan menunggang motor yang lawas tersebut telah dicabut. Merasa tersiksa karena mungkin merasa minder, motornya lebih jelek dan sebagainya, padahal secara fungsi baik-baik saja. Mungkin ada yang pernah membaca bahasan seperti ini, tidak apa-apa, sebagai pengingat saja.

Merasa miskin karena membanding-bandingkan itu suatu penyakit hati dan sepertinya susah untuk disembuhkan. Sepertinya hanya dia sendiri yang bisa mengubahnya. Seperti dalam lirik sebuah lagu, "bila kau terus pandangi langit tinggi di angkasa, tak kan ada habisnya segala hasrat di dunia".

Salam!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buih itu adalah kita

Belajar, bukan sekolah!