kuwalat pada diri


Kita cenderung lebih punya adab ketika menghadapi  orang-orang yang kita anggap orang besar, orang penting dan semacamnya.  Misal kaum agamawan, intelektual, penguasa ,pejabat dan lain-lain. Padahal, adab itu tidak cuma kepada orang-orang pada level tertentu. Sebenarnya adab itu kepada semua orang, tanpa memandang siapakah dia . Kita beralasan, kita bisa kuwalat kalau kita tidak hormat ataupun punya adab kepada beliau-beliau tersebut. Yang bisa nguwalati ataupun malati itu bukan cuma orang-orang kelas tertentu saja, setiap yang pernah kita dholimi itu bisa malati. Justru orang-orang yang tidak kita perhitungkan  itu yang bisa malati. Kaum sub-altern,  gembel dan sebagainya yang kita cenderung meremehkannya. Bisa jadi kekasih-kekasih Nya itu  ada di mereka  yang  tidak pernah kita anggap.
Kuwalat bisa diartikan semacam karma buruk yang dapat kita terima karena telah melakukan perbuatan yang kurang baik, meremehkan , mendholimi dan sebagainya  kepada orang lain. Secara umum kuwalat memang akibat perbuatan kepada orang lain, tetapi mungkinkah bisa terjadi kuwalat kepada diri sendiri? Ada ungkapan 5 perkara sebelum  5 perkara. Itu adalah pesan bijak yang bisa dikaitkan dengan  kuwalat tersebut. Kita diberi nasehat untuk memanfaatkan  yang 5 perkara sebelum datangnya 5 perkara. Perkara-perkara tersebut adalah masa muda sebelum masa tua, masa sehat sebelum masa sakit, kaya sebelum miskin, waktu lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati. Ternyata ini berkaitan dengan waktu, siapa yang tidak bisa menghargai waktu sesungguhnya ia telah merugi.  Kuwalat terhadap diri sendiri itu mungkin saja terjadi. Ketika kita tidak bisa menghargai diri sendiri, dholim terhadap diri sendiri. Kita akan merasakannya setelah sekian waktu berlalu. Kita menerima keadaan yang kurang baik atau bahkan buruk karena sikap kita di masa yang lalu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buih itu adalah kita

Miskin dan merasa miskin itu beda

Belajar, bukan sekolah!