Belajar kepada Iblis, Adam dan Hawa


Belajar kepada Iblis, Adam dan Hawa

Setiap cerita nabi ada sisi psikologis , ada nilai dan ilmu yang bisa kita gali yang tak selalu tentang dosa , neraka dll. Seringkali kita menganggap cerita di kitab suci itu cuma dongeng saja. Kali ini kita akan membahas ataupun belajar tentang kasus Adam dan Hawa, tidak perlu diceritakan lagi bagaimana kisah  tersebut. Kita akan belajar dengan pendekatan sisi kemanusiaan Adam.
Dari kisah Adam dan Hawa ada beberapa yang bisa kita ambil, yang pertama adalah tentang  identitas dan eksistensi .Identitas ini adalah tentang “siapa”, misalnya siapa aku, siapa kamu ataupun siapa kami, siapa kalian. Yang berkaitan erat dengan identitas adalah eksisitensi. Eksistensi , kalau pada iblis  itu simple yaitu kesombongan. Dahulu Iblis merasa dirinya lebih baik daripada Adam, itu terjadi juga kepada  manusia sekarang. Sekarang iblis-iblis itu muncul dalam banyak hal.Supporter sepakbola, pendukung parpol, ormas  dan lain-lain, merasa yang paling baik .  Kita seringkali menjadi iblis, kita  merasa kelompok kita adalah yang paling bagus. Seperti itulah karakter iblis. Hal itu yang menjadikan iblis ditegur keras, dan kenyataannya yang mewarisinya malah anak cucu adam.
Berikutnya adalah tentang keinginan. Ketika Adam merasakan kesepian kemudian dihadirkan Hawa, sepertinya itu menyelesaikan masalah. Tetapi  sebenarnya  saat itu adalah awal terjadinya masalah. Kita tidak menyalahkan Hawa, tetapi tragedi khuldi itu terjadi ketika sudah hadirnya Hawa. Tak selalu terkabulnya suatu keinginan itu adalah kebaikan.
Sebenarnya, Adam tidak mempunyai keinginan untuk memakan buah khuldi, tetapi karena godaan Iblis akhirnya Adam memakannya juga. Ini adalah tentang konsumsi. Pola kasus terbujuknya Adam kemudian memakan buah terlarang, ini sangat mirip dengan kasus manusia-manusia jaman sekarang. Bahwa manusia mengkonsumsi, barang ataupun jasa, itu tidak murni karena keinginan pribadi tetapi karena bujukan dari luar. Peranan iklan memang sangat penting dalam dunia marketing. Tujuan adanya iklan sudah jelas, mengajak , merayu bahkan memperdaya orang supaya mengkonsumsi produk yang diiklankan tersebut. Sebenarnya apa yang dimiliki  oleh orang tersebut  masih layak secara fungsi, tetapi karena adanya bujukan baik dari  iklan ataupun dari teman, tetangga dan lain-lain kemudian ikut juga untuk membeli produk tersebut. Iklan ini memang hebat, membentuk citra bahwa orang yang membeli produk akan kelihatan keren , begitu juga sebaliknya, orang yang tidak membeli akan terlihat ketinggalan jaman.  Sebagian besar orang pasti tidak akan diam ketika dikatakan tidak keren , kuno dan sebagainya, ia merasa tergugat dan masuklah ia dalam tipudaya Iblis.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buih itu adalah kita

Miskin dan merasa miskin itu beda

Belajar, bukan sekolah!