Kutukan buah khuldi

Ada bermacam-macam buah di surga yang bisa dinikmati oleh Adam dan Hawa, tetapi ada jenis buah yang tidak diperbolehkan. Buah yang dimaksud adalah buah khuldi. Buah khuldi adalah buah khuldi, tidak ada padanan kata dalam bahasa lain. Misal kalau di Jawa kemudian diganti buah ciplukan ataupun buah talok, tidak bisa.

Ketika Hawa menginginkan buah khuldi, point utamanya bukan pada rasa buah tersebut tetapi pada sensasinya. Sebenarnya Adam dan Hawa tidak memiliki keinginan untuk memakan buah tersebut, tetapi Iblis menggoda dengan mengatakan itu buah keabadian , siapa yang memakannya maka akan hidup selamanya dan tidak akan menua.

Perkara "tidak akan menua", sampai saat ini kaum Hawa masih tergiur, masih menjadi isu yang hot. Iklan anti penuaan atau dalam bahasa lain disebut "anti aging" tetap terus ada, menjadi semacam kutukan buah khuldi. Begitu juga dengan manusia pada umumnya, seperti halnya menikmati buah khuldi itu adalah pada sensasinya. 

Misalnya makan ataupun minum di restoran mahal, itu sensasinya yang lebih dinikmati. Yang namanya es teh, mungkin kurang lebih rasanya juga seperti itu. Tetapi minum es teh di angkringan dengan di restoran mahal itu beda, sensasinya yang berbeda. Kemudian tentang hidup selamanya atau tetap eksis, generasi sekarang ini secara tidak kentara telah mendapat kutukan buah khuldi tersebut. Sewaktu di restoran misalnya, berfoto, selfi menampilkan keberadaanya , masih eksis ataupun ngeksis untuk ditampilkan di sosial media.

Yang namanya sensasi itu cenderung semu. Ada konsekuensi yang harus didapat karena menginginkan sensasi-sensasi tersebut, ini tidak lagi soal makanan tetapi pada hal-hal apa saja . Dahulu Adam dan Hawa sampai harus dibuang dari suwarga karena ingin merasakan sensasi buah khuldi. Manusia-manusia sekarang yang mengejar berbagai macam sensasi yang sebenarnya adalah fatamorgana, hidupnya menjadi tidak seimbang. Akan merasakan efek dari hal-hal yang sebenarnya semu tersebut. Bisa terbuang dari keluarga, perpecahan dengan teman, cekcok dalam rumahtangga dan sebagainya. Seperti itulah kutukan khuldi.

Supaya kita tidak terjebak pada kutukan khuldi maka kita harus pintar-pintar memilah dan memilih, ini dan itu kebutuhan atau keinginan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buih itu adalah kita

Miskin dan merasa miskin itu beda

Belajar, bukan sekolah!