Tradisi bertanya dalam belajar
Malu bertanya sesat di jalan. Itu adalah sebuah ungkapan lama dalam bahasa Indonesia ataupun dahulunya bahasa Melayu. Bahwa jika kita segan atau malu untuk mengajukan pertanyaan, kita bisa tersesat atau susah untuk menemukan jalan. Ini menunjukkan betapa pentingnya bertanya dalam sebuah proses/ perjalanan.
Bertanya, ini seolah sederhana tetapi tidak setiap orang bisa untuk bertanya. Misalkan dalam sebuah forum jika ada waktu untuk audien bertanya, maka secara umum tidak selalu secara spontanitas bertanya. Ada rasa malu, canggung, ragu-ragu atau malah bingung. Diberi kesempatan untuk bertanya tetapi malah bingung, yang mau ditanyakan itu apa juga tidak tahu.
Bertanya, cara ini juga digunakan oleh filusuf kondang dari Yunani, Socrates. Socrates menggunakan metode bertanya, bukan menjelaskan. Dari bertanya ini kemudian muncul jawaban-jawaban, ide dan gagasan dan pada akhirnya akan ditemukan jawaban yang benar berdasarkan logika dan fakta.
Untuk mencari sebuah kebenaran memang bisa dilakukan dengan cara bertanya dan berdialog , tetapi bisa juga bertanya kepada diri sendiri, lebih tepatnya adalah bertanya-tanya. Seperti halnya Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. Beliau selalu bertanya-tanya dan mengamati. Mengamati pola-pola yang ada atau kalau dalam bahasa Jawa bisa disebut dengan nitèni. Seni nitèni ini sering juga disebut dengan ilmu titèn. Pada akhirnya akan terkumpul kesimpulan-kesimpulan, walaupun belum tentu terjamin kebenarannya.
Sebenarnya yang terpenting bukan pada kesimpulan-kesimpulan yang didapat, tetapi pada proses pembelajarannya yaitu dengan metode bertanya. Bertanya ini adalah dasar, seperti kuda-kuda dalam ilmu bela ini.
Bertanya, ini seolah sederhana tetapi tidak setiap orang bisa untuk bertanya. Misalkan dalam sebuah forum jika ada waktu untuk audien bertanya, maka secara umum tidak selalu secara spontanitas bertanya. Ada rasa malu, canggung, ragu-ragu atau malah bingung. Diberi kesempatan untuk bertanya tetapi malah bingung, yang mau ditanyakan itu apa juga tidak tahu.
Bertanya, cara ini juga digunakan oleh filusuf kondang dari Yunani, Socrates. Socrates menggunakan metode bertanya, bukan menjelaskan. Dari bertanya ini kemudian muncul jawaban-jawaban, ide dan gagasan dan pada akhirnya akan ditemukan jawaban yang benar berdasarkan logika dan fakta.
Untuk mencari sebuah kebenaran memang bisa dilakukan dengan cara bertanya dan berdialog , tetapi bisa juga bertanya kepada diri sendiri, lebih tepatnya adalah bertanya-tanya. Seperti halnya Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. Beliau selalu bertanya-tanya dan mengamati. Mengamati pola-pola yang ada atau kalau dalam bahasa Jawa bisa disebut dengan nitèni. Seni nitèni ini sering juga disebut dengan ilmu titèn. Pada akhirnya akan terkumpul kesimpulan-kesimpulan, walaupun belum tentu terjamin kebenarannya.
Sebenarnya yang terpenting bukan pada kesimpulan-kesimpulan yang didapat, tetapi pada proses pembelajarannya yaitu dengan metode bertanya. Bertanya ini adalah dasar, seperti kuda-kuda dalam ilmu bela ini.

Komentar
Posting Komentar