Sinau ke dalam

Atas segala kejadian yang kita anggap kurang baik khususnya yang menimpa diri pribadi, sebaiknya kita tidak menyalahkan pihak lain. Ini bisa dijadikan bahan untuk mengoreksi diri, mengapa semua itu terjadi , apakah ada yang salah atau tidak seimbang dalam kita berperilaku. Segala sesuatu yang terjadi tidak mungkin hanya "kebetulan", mungkin ada pesan yang bisa kita gali dan kita cari supaya kita bisa lebih baik dalam berperilaku dalam hidup ini.


Kecenderungannya orang akan menyalahkan liyan dan sedikit yang menyalahkan diri sendiri, atau mengakui bahwa dirinya bersalah. Mungkin karena ego yang menguasai, merasa diri ini penting untuk dihargai , dihormati, tidak boleh disalahkan, tidak untuk dilecehkan. Yang ada adalah kita merasa di atas yang lain, merasa lebih penting.Cobalah kita mulai untuk mengendalikan ego, sedikit demi sedikit, atau kalau bisa kita bunuh ego itu. Ada ungkapan dalam bahasa manca, yang jika diterjemahkan kurang lebih berarti " bakarlah egomu, sebelum ia membakarmu". Eh ini mbahas apa sih, kok malah bakar-bakaran?

Kita perlu ber-muhasabah. Apakah muhasabah itu? * Ya mbuh ya, malah nanya! *
Muhasabah mempunyai arti berhitung ataupun melakukan penghitungan. Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Hisab ini maksudnya tentang berhitung atau penghitungan, buka hisap , yang dekat artinya dengan sedot. Kalau kedua kata ini disuarakan memang mirip, jadi kadang membingungkan bagi yang jarang atau belum pernah mendengar kata hisab.

Dalam konteks ini maksudnya adalah upaya mengevaluasi segala yang telah kita lakukan. Apakah dari sekian macam perbuatan yang kita lakukan ada hal yang mungkin tidak disukai oleh Allah. Baik itu dari cara kita berbicara atau bertutur kata kepada orang lain, mungkin kita kurang sopan dan sebagainya. Atau dalam berperilaku, kita seolah-olah merasa menjadi orang penting dan terbaik dan merendahkan yang lain. Bisa jadi karena situasi kita tidak bisa mengendalikan emosi, emosi kemarahan. Hal-hal yang telah kita lakukan yang "disengaja" itu lebih mudah dicari dibandingkan dengan hal yang "tidak disengaja". Sepertinya kita sudah berperilaku sewajarnya tetapi ternyata ada yang tidak berkenan ataupun tersinggung dengan kelakuan kita.

Sinau ke dalam, seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa atas segala yang terjadi, kita kembali ke diri kita bukan menyalahkan pihak lain. Seumpama kita sedang berjalan kemudian terjatuh karena tersandung batu, bukan lantas memarahi dan menyeramahi batu tersebut. Seharusnya kita berpikir mengapa bisa tersandung, mungkin kurang hati-hati dan fokus. Kalau kita tidak bisa mengelola uang dengan baik jangan kemudian menyalahkan adanya swalayan dengan segala promosi-promosinya. Bisa jadi kita yang serakah , karena ada barang yang sedang promo kemudian dibeli, mumpung murah ini, padahal sebenarnya belum membutuhkannya. Kemudian ngedumel, gara-gara toko itu saya jadi kehabisan duit! Padahal salah sendiri tidak bisa mengendalikan diri.

Dalam pergaulan, teman-temannya sudah pada punya pasangan, kamu sendiri yang belum, kenapa mblo? Pertanyaan ini tidak harus dijawab, ini bukan kuis. Ya sudah yang ini tidak perlu dibahas.

Mungkin itu tadi sedikit gambaran, dalam berbagai kasus intinya kita tidak perlu menyalahkan pihak lain , disarankan untuk melihat diri sendiri. Kalau usaha ini tidak mudah , kita boleh menggunakan alat bantu, yaitu cermin yang agak besar. Yes, kita perlu bercermin, itu saja!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buih itu adalah kita

Miskin dan merasa miskin itu beda

Belajar, bukan sekolah!